Sabtu, 23 Februari 2013

Tugas Kuliah Komunikasi Budaya VI kelas PBU VII


1.Apa yang dimaksud dengan menjadi manusia antar 

budaya? Mengapa hal itu penting untuk dipelajari?

2.Jelaskan tentang apa yang dimaksud dengan komunikasi 

menurut model Laswell dan bedakan dengan model dari 

Schramm

3.Apa yang dimaksud dengan budaya? Menurut Hebling dan 

Glick, apa yang dimaksud dengan unsur material dan non 

material

4.Jelaskan perbedaan antara norma, nilai dan kepercayaan

Kirim jawaban ke susiana64@gmail.com, paling lambat Selasa, 26 Februari 2013, pk 23.59

Jumat, 01 Februari 2013

Kuliah 12 KOmunikasi antar budaya PBU VI kelas Sabtu

Review akhir


Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. [1] Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras,etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.[1
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.[2] Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.[3]
Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture.[3]
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.[4] Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
1.     Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;[4]
2.     Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;[4]
3.     Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;[4]
4.     Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.[4]
Hakikat Komunikasi Antarbudaya
Enkulturasi

Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melaluigen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.[5]
Akulturasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain.[5] Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah

Bahan kuliah ke 13 dan 14 seperti yang dikirim

Berikut adalah pertanyaan untuk dijawab dalam tulisan/paper seperti yang disampaikan dalam kuliah terakhir, paper mengacu pada pertanyaan di bawah ini.

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP TA 20112/20123
PROGRAM BEASISWA UNGGULAN DIKNAS
SARJANA SAINS TERAPAN (PBU BATCH VI) SEKOLAH
JURUSAN PERHOTELAN
 

            MATA KULIAH                     :KOMUNIKASI BUDAYA
              HARI/TANGGAL                  :RABU, 6 FEBRUARI 2013
              WAKTU                                 :8.30 – 10.00
               DOSEN PENGUJI                 :DRA . SUSIANA DEWI RATIH, MM       
              SIFAT UJIAN                             : TAKEHOME, DIKUMPULKAN PADA HARI UJIAN
1.    
  1.       Jelaskan  pemahaman anda mengenai  komunikasi budaya  yang terkait dengan kegiatan bisnis. Fokuslah pada salah satu budaya, yang masuk dalam budaya individualis atau kolektivistik.

a.      Berikan deskripsi mengenai persepsi, perilaku, komunikasi verbal maupun non verbal.
b.      Lakukan analisis  sesuai dengan pemahaman teori yang sudah anda peroleh.
c.       Berikanlah juga saran terkait dengan cara menjalin komunikasi yang efektif dengan orang dari kelompok budaya yang dimaksud.

Selamat mengerjakan.

Sebagai tanda presensi kehadiran, agar memberi komentar pada blog ini.




Kamis, 03 Januari 2013

Kuliah 12 Pengantar Pariwisata UPW Kelas Roxy

Prinsip pengelolaan Pariwisata berkelanjutan-Sustainable Tourism


Dalam website DepBudPar, disajikan beberapa tulisan antara lain dari Roby Ardiwidjaja – seorang peneliti Departemen Kebudayaan dan Pariwisata -, yang menulis paper tentang Pariwisata Berkelanjutan, berjudul : “STRATEGIC SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT IN INDONESIA” (Pengembangan Strategis Kepariwisataan Berkelanjutan di Indonesia) . Kami menilai tulisannya sangat berharga untuk tidak diketahui oleh kalangan pemangku kepentingan dalam bidang pariwisata. Adapun tulisan aslinya, yang kami baca disajikan dalam bahasa Inggris. Di bawah ini kami sajikan salah satu bagian dari tulisannya, – yang kami terjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia -, dengan harapan dapat dibaca oleh masyarakat luas, khususnya yang berkepentingan dengan pengembangan pariwisata, baik dari kalangan investor, Pemerintah Daerah maupun para dosen/ pengajar pariwisata dsb. Harapan lain dari penyajian artikel ini, semoga bermanfaat bagi segenap pihak yang membacanya. Inilah tulisannya:.

Sangat dipercaya bahwa ada banyak manfaat ekonomi dari pengembangan pariwisata, dan ada juga ketidak-raguan bahwa Indonesia mempunyai potensi tinggi dalam hal sumber daya pariwisata. Setidaknya memiliki ribuan pulau dan jutaan hektar hutan tropis yang sangat tinggi keaneka-ragaman hayatinya sebagai potensi wisata alam daerah tropis. Ratusan kelompok etnis dan budaya mereka juga dapat dianggap sebagai potensi pariwisata yang luar biasa.
Namun, ada beberapa pertanyaan dasar yang tentunya perlu dijawab.

  1. “Bagaimana seharusnya sumber daya itu digunakan didasarkan azas berkelanjutan?” Meskipun pertanyaan di atas tampaknya sangat sederhana, jawabannya tidak demikian. Tanpa pengetahuan yang mendalam tentang sumber daya pariwisata, akan sulit untuk menentukan potensi budaya dan sumber daya alam untuk pariwisata, potensi pasar, dan kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk merencanakan dan untuk menjalankan pembangunan.
  2. Pertanyaan mendasar yang kedua, yang memerlukan beberapa solusi, adalah: “Bagaimana konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan bisa diterapkan ke dalam proses pembangunan lain yang sedang berlangsung”.Ini bukan tugas yang mudah untuk memperkenalkan konsep lisan sekte baru ke dalam proses pembangunan yang berlangsung, yang meliputi banyak aspek lain. Secara umum, strategi pengenalan akan selalu membutuhkan evaluasi proses pembangunan yang ada.Keberhasilan atau kegagalan pengembangan juga akan ditentukan oleh perencanaan yang hati-hati dan tepat yang mengikuti orientasi yang jelas dengan langkah-langkah pembangunan yang terkait.
  3.  “Bagaimana mengubah persepsi, sikap dan motivasi stakeholder (pemangku kepentingan) untuk berbuat sesuai dengan arah dan kriteria baru untuk pengembangan pariwisata “. Ini jelas juga memerlukan pengetahuan khusus, tetapi diperlukan untuk mencapai harga penjualan yang tinggi untuk produk-produk pariwisata.
Persoalan mendasar ini akan menjadi lebih gawat untuk pemerintah daerah mana pun.
Dengan berbagai keterbatasan penting seperti modal dan sumber daya manusia, pemerintah setempat tidak dapat memecahkan berbagai masalah krusial hanya melalui euforia otonomi. 


Hambatan:

  1. Salah satu hambatan penting adalah eksploitasi yang wajar sumber daya alam (termasuk sumber daya pariwisata), yang dipromosikan hanya untuk membiayai pembangunan program jangka pendek. Dengan pikiran pertimbangan ini, maka dianggap perlu untuk melakukan studi perencanaan pariwisata berkelanjutan di Indonesia terutama di tingkat lokal daerah otonom.
  2. Faktor lain yang mudah menjadi kendala utama bagi Indonesia adalah terbatasnya pendanaan. Untuk mengembalikan tujuan pariwisata massal semula, pemerintah perlu bekerja keras untuk mengumpulkan dana dari berbagai tingkatan pengusaha pariwisata yang tengah mencoba bertahan hidup dengan merosotnya jumlah turis di pasca tujuan pariwisata massal mereka. Di sisi lain, pembangunan destinasi yang baru di beberapa daerah juga membutuhkan dana besar untuk mampu memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria yang ada seperti untuk melakukan penilaian dampak lingkungan (AMDAL) atau pengolahan air, dll.  Jika semua biaya dihitung dalam investasi, maka harga produk akan cenderung terlalu mahal dan hanya akan terjangkau oleh konsumen eksklusif tertentu. Sementara itu, eksklusifisme, bertentangan dengan kriteria paradigma baru pendekatan pembangunan partisipatif; yang juga menjadi kriteria penting terhadap keberlanjutan.


Hambatan terbatasnya dana sangat krusial di Indonesia. Di satu sisi,
benar-benar berharap untuk memiliki manfaat ekonomi dari pariwisata, di sisi lain, Indonesia pada umumnya harus membiayai berbagai persyaratan dan kriteria keberlanjutan.


Investor internasional adalah salah satu peluang yang  diimpikan Indonesia untuk meraihnya. Namun, investasi internasional akan selalu berakhir dengan kehilangan modal (capital-loss) atau pelarian modal (capital-flight), yang merupakan suatu ciri dalam situasi ekonomi dan politik tertentu. 

Memperhatikan semua rintangan di atas, ada satu pertanyaan untuk dijawab: “Apa yang harus dan bisa dilakukan Indonesia agar mampu membiayai pengembangan pariwisata berkelanjutan untuk memperoleh manfaat yang optimal”.


Salah satu kemungkinan jawaban untuk pertanyaan itu adalah dengan “mengembangkan perencanaan yang baik melalui pemerintahan yang baik “.

Tugas Anda:

Baca baik-baik tulisan di atas, pertanyaan tentang tulisan di atas, akan menjadi  tanda presensi kehadiran saudara dalam perkuliahan.

Jika mengalami kesulitan dalam membuat pertanyaan di komentar, silahkan menulisnya ke email susiana64@gmail.com

Tugas lain:
Agar presentasi ttg Kota Tua Jakarta dikumpulkan via email yang sama, paling lambat 12 Januari 2013 pukul 23.59

Selasa, 01 Januari 2013

Pengumuman untuk Mahasiswa STP Sudirman, UPW-PAriwisata Alam Budaya

Diumumkan bagi mahasiswa UPW kelas Sudirman, mk Pariwisata Alam Budaya, agar segera menyampaikan presentasinya ke susiana64@gmail.com, paling lambat 7 Januari 2013, pk 12.00
terima kasih

Selasa, 11 Desember 2012

Kuliah 11 Bahasa dan budaya KOMUNIKASI BUDAYA KELAS SUDIRMAN


HUBUNGAN BERBAHASA, BERPIKIR, DAN BERBUDAYA
Menurut Abdul Chaer, (Psikolinguistik; 2002) Berbahasa adalah penyampaian pikiran atau perasaaan dari orang yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan budayanya. Jadi, kita lihat berbahasa, berpikir, dan berbudaya adalah tiga hal atau tiga kegiatan yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia
Berbahasa, dalam arti berkomunikasi, dimulai dengan membuat enkode semantic dan encode gramatikal didalam otak pembicara, dilanjutkan dengan membuat encode fonologi. Kemudian di lanjutkan dengan penyusunan decode fonologi, decode gramatikal, dan decide semantic pada pihak pendengar yang terjadi di dalam otaknya. Salah satu Teori yang penting dikaitkan dengan Budaya adalah Teori sapir Whorf

Teori Sapir-Whorf
Edward Sapir (1884-1939) linguis Amerika memiliki pendapat yang hampir sama dengan Von Humboldt. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini di bawah ’’belas kasih’’ bahasanya yang telah menjadi alat pengantar dalam kehidupannya bermasyarakat. Menurut sapir, telah menjadi fakta bahwa kehidupan suatu masyarakat sebagian ’’didirikan’’ diatas tabiat-tabiat dan sifat-sifat bahasa itu. Karena itulah, tidak ada dua buah bahasa yang sama sehingga dapat dianggap mewakili satu masyarakat yang sama.
Benjamin Lee Whorf (1897-1941), murid sapir, menolak pandangan klasik mengenai hubungan bahasa dan berpikir yang mengatakan bahwa bahasa dan berpikir merupakan dua hal yang berdiri sendiri-sendiri.
Sama halnya dengan Von Humboldt dan sapir, Whorf juga menyatakan bahwa bahasa menentukan pikiran seseorang sampai kadang-kadang bisa membahayakan dirinya sendiri. Sebagai contoh, whorf yang bekas anggota pemadam kebakaran menyatakan ’’kaleng kosong’’ bekas minyak bisa meledak. Kata kosong digunakan dengan pengertian tidak ada minyak di dalamnya.
Setelah meneliti bahasa hopi, salah satu bahasa Indian di California Amerika Serikat, dengan mendalam, whorf mengajukan satu hipotesis yang lazim disebut hipotesis Whorf (atau juga hipotesis Sapir-Whorf) mengenai relatifitas bahasa. Menurut hipotesis itu, bahasa-bahasa yang berbeda’’membedah’’ alam ini dengan cara yang berbeda, sehingga terciptalah satu relatifitas sistem-sistem konsep yang tergantung pada bahasa-bahasa yang beragam itu.
Berdasarkan hipotesis Sapir-Whorf itu dapatlah dikatakan bahwa hidup dan pandangan hidup bangsa-bangsa di Asia Tenggara( Indonesia, Malaysia, Filipina, dan lain-lain) adalah sama karena bahasa-bahasa mereka mempunyai struktur yang sama. Sedangkan hidup dan pandangan hidup bangsa-bangsa lain seperti Cina, Jepang, Amerika, Eropa , Afrika, dan lain-lain adalah berlainan karena struktur bahasa mereka berlainan. Untuk memperjelas hal ini Whorf membandingkan kebudayaan Hopi di organisasi berdasarkan peristiwa-peristiwa(event) , sedangkan kebudayaan eropa diorganisasi berdasarkan ruang(space) dan waktu (time).
hipotesis Sapir-Whorf merupakan hipotesis yang  controversial. Hipotesis ini yang menyatakan bahwa jalan pikiran dan kebudayaan suatu masyarakat ditentukan atau dipengaruhi oleh struktur bahasanya, namun hipotesis tersebut banyak menimbulkan kritik dan reksi hebat dari para ahli filsafat, linguistik, psikologi, psikolinguistik, sosiologi, antropologi dan lain-lain. Dan untuk menguji hipotesis Sapir-Whorf itu, Farb (1947) mengadakan penelitian.
para ahli menguraikan mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran antara lain:
1. Bahasa mempengaruhi pikiran
2. Pikiran mempengaruhi bahasa
3. Bahasa dan pikiran saling mempengaruhi.
Tugas: Jawablah soal-soal berikut
  1. Jelaskan tentang apa yang dimaksud dengan kaidah emas
  2. Jelaskan pula apa yang dimaksud dengan simpati dan empati
  3. Menurut anda bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan budaya?
4.       Jelaskan mengapa komunikasi non verbal merupakan hal yang penting dalam komunikasi budaya
5.       Jelaskan apa yang dimaksud dengan hipotesis Sapir-whorf
6.       Jelaskan beda antara konsep waktu M-time (Monokronik) dengan Polikronik (P-time)

Jawaban dikirim via email ke susiana64@gmail.com paling lambat Minggu, 16 Desember 2012 pukul 23.59

Jumat, 23 November 2012

Kuliah 8 Komunikasi budaya kelas sudirman A dan B


PERSEPSI
1. Definisi Persepsi
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi – energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna. Persepsi adalah juga inti komunikasi, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu,semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan sebagai konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas. Persepsi meliputi :
· Penginderaan ( sensasi ), melalui alat – alat indra kita ( indra perasa, indra peraba, indra pencium, indra pengecap, dan indra pendengar ). Makna pesan yang dikirimkan ke otak harus dipelajari. Semua indra itu mempunyai andil bagi berlangsungnya komunikasi manusia.penglihatan menyampaikan pesan nonverbal ke otak untuk diinterprestasikan. Pendengaran juga menyampaikan pesan verbal ke otak untuk ditafsirkan. Penciuman, sentuhan dan pengecapan, terkadang memainkan peranan penting dalam komunikasi, seperti bau parfum yang menyengat, jabatan tangan yang kuat, dan rasa air garam dipantai.
· Atensi atau perhatian adalah, pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan dan, proses kognitif lainnya.Proses atensi membantu efisiensi penggunaan sumberdaya mental yang terbatas yang kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap rangsang tertentu. Atensi dapat merupakan proses sadar maupun tidak sadar.
· Interpretasi adalah, proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol- simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi berurutan).
2. Budaya dan Persepsi
Faktor – faktor internal bukan saja mempengaruhi atensi bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi kita secara keseluruhan, terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Agama, ideologi, tingkat ekonomi, pekerjaan, dan cita rasa sebagai faktor – faktor internal jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Denagn demikian persepsi itu terkait oleh budaya ( culture - bound ). Kelompok – kelompok budaya boleh jadi berbeda dalam mempersepsikan sesuatu. Orang Jepang berpandangan bahwa kegemaran berbicara adalah kedangkalan, sedangkan orang Amerika berpandangan bahwa mengutarakan pendapat secara terbuka adalah hal yang baik.
Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengemukakan 6 unsur budaya yang secara langsung mempegaruhi persepsi kita ketika kita berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yakni :
· kepercayaan (beliefs), nilai ( values ), sikap ( attitude )
· pandangan dunia ( world view )
· organisasi sosial ( sozial organization )
· tabiat manusia ( human nature )
· orientasi kegiatan ( activity orientation )
· persepsi tentang diri dan orang lain ( perseption of self and other )
3. Persepsi selektif, organisasi, dan penafsiran
Setiap orang memperhatikan , mengorganisasikan dan menafsirkan semua pengalamannya secara selektif. Stimuli secara secara selektif artinya, stimuli di urutkan, dan selanjutnya, disajikan sebuah gambaran yang menyeluruh, lengkap, dan dapat di indera. Tidak mudah memahami cara orang lain mengorganisasikan sekaligus memikirkan cara kita sendiri. Setelah stimuli dipersepsi dan diorganisasikan secara selektif, selanjutnya stimuli ditafsirkan secara selektif pula, artinya stimuli diberi makna secara unik oleh orang yang menerimanya.
4. Pengamat / objek / konteks
Seperti mempersepsi benda mempersepsi orang lain juga dapat ditinjau dari 3 unsur yaitu :
· pengamat
· objek persepsi
· konteks yang berkaitan denagn objek yang diamati
Sebagai pengamat anda juga dipengaruhi oleh atribu –atribut anda sendiri. Misalnya orang cenderung membuat penilaian umum, positif ataupun negatif. Namun, karena persepsi personal merupakan proses tradisional, maka atribut – atribut tersebut dapat berubah. Sesekali kesalahan persepsi dapat diperbaiki. Namun, biasanya suatu kesalahan persepsi diikuti kesalahan persepsi lainnya. Sehingga, penyimpangan yang terjadi semakin parah.
5. kegagalan dan kekeliruan dalam persepsi
Persepsi kita seringkali tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Kita mempersepsikan sesuatu atau seseorang sesuai dengan pengharapan kita. Beberpa bentuk dan kegagalan persepsi adalah sebagai berikut :
· Kesalahan atribusi : atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain.
· Efek halo : merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat- sifatnya yang spesifik.
· Stereotip : adalah mengeneralisasikan orang – orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok.
· Prasangka : suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda. Istilah ini berasal dari bahasa latin ( praejudicium ), yang berarti preseden atau penilaian berdasarkan pengalaman terdahulu.
· Gegar budaya : suatu bentuk ketidak mampuan menyesuaikan diri, yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang –orang baru.
6. Bagaimanakah sebuah pembentukan kesan ?
·                     Meperhatikan diri sendiri
·                     Konsep diri adalah kesan anda yang relatif stabil menegenai diri sendiri.
·                     Umpan balik adalah sikap yang menunjukan sikap respon atau menanggapi lawan main
·                     Rasa malu
·                     Ramalan yang dipenuhi diri sendiri
·                     Atribusi pelaku
Kebanyakan orang membentuk kesan atas oranglain dengan mudah, namun mereka merasa sulit bila diminta menjelaskan prosesnya. Kesan adalah kata yang kita gunakan untuk penilaian kita.
7. Kesan Pertama
Penilaian kepribadian digunakan untuk menjelaskan dan memperkirakan perilaku berdasarkan informasi yang amat terbatas. Bagaimanakah informasi yang ada dimanfaatkan dalam pembentukan kesan pertama?. Sebenarnya, setiap orang tampaknya mempunyai teori khusus kepribadian atau biasa disebut degan teori implisit. Pada intinya istilah in berarti bagaimana kita memilih dan mengorganisasikan informasi tentangorang lain berdasarkan perilaku yang kita rasa dimilikinya.
8. Beberapa variable yang mempengaruhi kecermatan persepsi
Ada beberapa variable yang dapat mempengaruhi kecermatan dalam persepsi . Berbagai kajian menunjukan sedikitnya tiga generalisasi yang dapat dibuat
·                     Ada orang – orang yang lebih mudah menilai dari orang –orang lainnya, mungkin mereka lebih terbuka mengenai diri sendiri
·                     Beberapa sifat lebih mudah diniai daripada beberapa sifat lainnya
·                     Kita dapat menilai orang lebih baik bila orang tersebut mirip dengan kita.

Tugas anda:

1.    Bagaimana menghubungkan persepsi dengan budaya? Jelaskan jawaban Saudara dalam MS word, dan file dikirim ke susiana64@gmail.com paling lambat Rabu  28 November 2012 pk 23.59

Jumat, 16 November 2012

Kuliah 3 Komunikiasi antar budaya, PBU VI Hotel Kelas Sabtu


TEORI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat, dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Pada dasarnya, budaya adalah suatu kode.
Terdapat empat dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu:
  1. Jarak kekuasaan (power distance)
  2. Maskulinitas.
  3. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance).
  4. Individualisme.
Berkenaan dengan pembahasan komunikasi antarbudaya, Griffin (2003) menyadur teori AnXiety/Uncertainty ManagementFace-Negotiation; dan Speech Codes.
1. Anxiety/Uncertainty Management Theory (Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian).
Teori yang di publikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan.
Ia menggunakan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses meminimalisir ketidakmengertian. Penulis lain menggunakan istilah accuracy, fidelity, understanding untuk hal yang sama.
Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi yang berhubungan erat, kemudian melihat itu sebagai perbedaan pada ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat afeksi- suatu emosi.
Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:
a. Konsep diri dan diri.
Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
b. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.
Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kecemasan.
c. Reaksi terhadap orang asing.
Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita untuk memproses informasi yang kompleks tentang orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka.
Sebuah peningkatan untuk mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.
Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.
d. Kategori sosial dari orang asing.
Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi: pemahaman perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok.
Sebuah peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam memperkrakan perilaku mereka.
e. Proses situasional.
Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.
f. Koneksi dengan orang asing.
Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku mereka.
Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita berbagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku orang lain.
2. Face-Negotiation Theory.
Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.
Terdapat tiga perbedaan penting diantara budaya individulis dan budaya kolektivis. Perbedaan-perbedaan itu adalah dalam cara mendefinisikan: diri; tujuan-tujuan; dan kewajiban.
konsep
Budaya individualis
Budaya kolektivis
Diri
Sebagai dirinya sendiri
Sebagai bagian kelompok
Tujuan
Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan diri.
Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan kelompok
Kewajiban
Melayani diri sendiri
Melayani kelompok/orang lain.
Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:
a. Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan anggota kelompok.
b. Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.
c. Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu kompromi bisa dibuat.
d. Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.
e. Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama-sama.
Face-negotiation teory menyatakan bahwa avoidingobligingcompromisingdominating, dan integratingbertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk self-face dan other -face.
3. Speech Codes Theory.
Teori yang dipublikaskan Gerry Philipsen ini berusaha menjawab tentang keberadaan speech code dalam suatu budaya, bagaimana substansi dan kekuatannya dalam sebuah budaya. Ia menyampaikan proposisi-proposisi sebagai berikut:
a. Dimanapun ada sebuah budaya, disitu diketemukan speech code yang khas.
b. Sebuah speech code mencakup retorikal, psikologi, dan sosiologi budaya.
c. Pembicaraan yang signifikan bergantung speech code yang digunakan pembicara dan pendengar untuk memkreasi dan menginterpretasi komunikasi mereka.
d. Istilah, aturan, dan premis terkait ke dalam pembicaraan itu sendiri.
e. Kegunaan suatu speech code bersama adalah menciptakan kondisi memadai untuk memprediksi, menjelaskan, dan mengontrol formula wacana tentang intelijenitas, prudens (bijaksana, hati-hati) dan moralitas dari perilaku komunikasi.

Tugas anda:
Dalam teori "face negotiation" muncul disana perbedaan antara budaya individualistik dan budaya kolektivistik. Berilah contoh masing masing berdasarkan penjabaran di teori tersebut.

Tugas dikumpulkan jumat 23 November 2012 pk. 23.59 via email ke susiana 64@gmail.com