Kuliah 10
Fenomena
Fenomena komunikasi antara komunitas berbeda budaya semakin rumit,
sejalan dengan semakin beragamnya konsep diri, minat, kepentingan, gaya hidup,
kelompok rujukan, sistem kepercayaan dan nilai yang berkembang. Walaupun
memiliki budaya yang sama, tapi dalam suatu komunitas yang terdiri dari
beberapa ras, pasti ada perbedaan atau secara tidak sadar, perbedaan itu
dimunculkan dan akhirnya menjadi suatu prasangka. Dari prasangka-prasangka
inilah akhirnya selalu terjadi terjemahan informasi yang salah.
Banyak fenomena komunikasi yang mungkin atau bahkan sering kita alami, baik
secara sadar atau tidak sadar. Ketika kita berada di suatu budaya yang berbeda,
ini akan sangat terasa. Saya akan menceritakan beberapa fenomena komunikasi
yang pernah saya alami, khususnya dari segi bahasa yang akhirnya menimbulkan
prasangka lain.
Di Bandung, kalau kita tidak bisa berbahasa Sunda, maka kita akan menjadi
sasaran empuk sopir angkutan kota (angkot). Waktu pertama kali saya berada di
Bandung (3 tahun yang lalu), saya sering mendapat perlakuan yang tidak adil
dari hampir semua sopir angkot yang angkotnya pernah saya tumpangi dalam hal
ongkos/biaya yang harus saya bayar dengan jarak yang saya tempuh. Ketika saya
turun dari angkot dan saya membayar ongkos dengan tidak menggunakan uang pas,
maka ongkos yang seharusnya Rp 2.000,- dalam sekejab akan berubah menjadi Rp
3.000,-
Berbeda dengan di Yogyakarta. Di Yogyakarta, ketika berbelanja di Malioboro dan
menawar barang dengan berbahasa Indonesia dan logat yang sedikit berbeda, maka
harga barang yang seharusnya 15 ribu akan berubah menjadi 30 ribu. Perbedaan
yang cukup drastis.
Warna kulit juga merupakan salah satu perbedaan yang sangat mencolok di suatu
daerah berbeda. Waktu saya masih berdomisili di Yogyakarta, ketika berbelanja
di warung yang sedang ramai, maka hukum ras akan sangat berlaku. Walaupun kita
sudah antri 1 jam, jika kita bukan orang pribumi (warna kulit sedikit gelap)
yang berkulit "sawo matang", maka kita akan menjadi orang terakhir
untuk dilayani. Dalam mencari kost-kost-an pun demikian.
Ini adalah pengalaman teman kost saya (waktu masih di Yogyakarta) yang
berasal dari Batak. Dia bercerita bahwa ketika tiba di Yogyakarta, dia sangat
kesulitan dalam mencari kost-an. Walaupun di depan pintu ada tulisan
"TERIMA KOST PUTRI", tetapi ketika ibu kost-nya keluar dan
mendengarkan logat Batak-nya yang kental, tanpa basa basi, pemilik kost-an
tersebut langsung mengatakan bahwa semua kamar sudah penuh. Bahkan ada yang
dengan jujur mengatakan "Kamu orang Batak ya? Maaf, di sini tidak
menerima orang Batak karena orang Batak hanya bisa membuat keributan".
Dia sangat putus asa, tapi akhirnya ada temannya (orang Jawa) yang berhasil
meyakinkan salah satu pemilik kost dan akhirnya mau menerima dia.
Sungguh perjuangan yang luar biasa, dan perbedaab yang luar biasa pula.
Pengalaman yang menunjukkan tentang komunikasi antar budaya yang menimbulkan
prasangka juga dapat kita lihat dalam film "How Biased are You"
(belum pernah nonton? Buruan cari filmnya selagi masih ada). Dalam film ini
terlihat begitu banyak perbedaan antara orang berkulit hitam dan orang berkulit
putih walaupun memiliki budaya yang kurang lebih sama. Dalam melakukan banyak
hal, orang kulit putih lebih diutamaka/didahulukan dibanding orang kulit hitam.
Bahkan secara tidak langsung, ketika melakukan tes pada beberapa orang berkulit
putih dan berkulit hitam, keduanya lebih berpihak pada orang berkulit putih.
Perbedaan mungkin kita anggap biasa dan wajar-wajar saja, tetapi tanpa kita
sadari perbedaan membuat kita menjadi egois dan bahkan secara perlahan tapi
pasti membawa kita pada kehancuran. Kita akan mulai kehilangan EMPATI pada
orang lain jika perbedaan itu terus kita pertahankan dan kita biarkan
menghantui kita.
Seperti yang ada dalam film "Haw Biased are You", dalam tes
yag diberikan kepada beberapa orang berkulit hitam, tanpa mereka sadari, mereka
sudah lebih berpihak pada orang berkulit putih. Mereka sendiri mengakui bahwa
sebenarnya dari lubuk hati mereka yang paling dalam tidak seperti itu. Lalu
faktor apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Mengapa hasil tes tersebut
bisa berbeda dengan pengakuan mereka? Itu artinya perbedaan tersebut bisa
dihilangkan. Berikut beberapa teori yang berkaitan dengan masalah ini.
Kerangka Teori
Cara kita berpikir dapat terkondisikan secara kultural. Budaya-budaya Timur
melukiskan sesuatu dengan visualisasi-visualisasi, sedangkan budaya Barat
cenderung menggunakan konsep-konsep.
Pada dasarnya manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai
suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka.
Kebiasaan-kebiasaan, praktik-praktik, tradisi-tradisi untuk terus hidup dan
berkembang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu
masyarakat tertentu.
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya bukanlah
sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan tidak dimiliki oleh sebagian
orang lainnya - budaya dimiliki oleh semua manusia dan dengan demikian
merupakan suatu faktor pemersatu. Budaya juga merupakan pengetahuan yang dapat
dikomunikasikan, sifat-sifat perilaku dipejari yang juga ada pada
anggota-anggota dalam suatu kelompok sosial dan berwujud dalam lembaga-lembaga
dan artefak-artefak mereka.
Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin
diperlakukan oleh mereka. Dalam kaidah ini terkandung asumsi kesamaan: bahwa
orang lain seperti diri kita dan karena ia ingin diperlakukan sama. Kesamaan
mengandung makna realitas yang tunggal dan mutlak, dan pemikiran seperti itu
adalah dasar etnosentrisme.Kaidah emas membawa kita pada strategi komunikasi
simpati; yakni menganggap orang lain berpikir dan merasa seperti kita dalam
menghadapi situasi yang sama.
Untuk mengatasi Kaidah Emas, kita harus mengasumsikan adanya perbedaan diantara
orang-orang dan adanya realitas ganda. Bila kita menggunakan prinsip ini, kita
menggunakan strategi komunikasi empati; yakni secara imajinatif kita mengalami
dunia dari perspektif orang lain. Kemampuan empati dapat dikembangkan dengan
mengikuti enam langkah yang saling berkaitan. Berbeda dengan Kaidah Emas,
komunikasi empati mendorong kepekaan interasial dan interkultural.
Kaidah Emas ini adalah puncak gunung es ideologi yang meghalangi perjalanan
menuju pengertian interkultural dan perdamaian internasional. Kaidah Emas dan
asumsi serta strategi yang menyertainya tidak efektif. Kita hanya ingin
menyatakan bahwa keefektifan pendekatan ini sangat dibatasi perbedaan
manusiawi.
Berlawanan dengan asumsi bahwa semua orang pada pokoknya sama, kita dapat
mengasumsikan bahwa setiap orang pada hakikatnnya unik. Teori ini dapat kita
sebut sebagai "hipotesis serpihan salju". Bila kita melihat
kesamaan yang tampak lebih secara lebih dekat, kita akan melihat keanekaragaman
yang hampir tidak terbayangkan. Pengamatan manusia yang lebih cermat juga
mengungkapkan keanekaragaman seperti ini. Jelaslah bagi kita bahwa kategori
yang kita gunakan untuk mengasumsikan adalah generalisasi yang dibuat dari jauh
- dari jarak yang dilestarikan oleh abstraksi seperti Kaidah Emas.
Jika kita menolak kaidah emas untuk menolak perbedaan, keanekaragaman
karakteristik manusia yang mempesona segera tampak. Bukan saja perbedaan itu
nyata dalam bahasa dan budaya, tetapi juga dapat diamati dalam tingkat
fisiologis. Seperti serpihan salju, orang berbeda dalam sidik jarinya, pola
gelombang otak, pola suara, dan komposisi lainnya. Disamping perbedaan bahasa
dan budaya pada suatu sisi dan perbedaan fisiologis pada sisi yang lain, orang
juga berbeda secara individual dalam pola psikologisnya.
Asumsi perbedaan konsisten dengan teori realaitas majemuk. Teori-teori ini
berpendapat, seperti konstruk personal, bahwa realitas bukanlah kuantitas yang
tepat dan dapat ditemukan. Realitas adalah kualitas yang berubah-ubah dan dapat
diciptakan. Dalam filsafat, pandangan ini diwakili oleh fenomenologi dan
berbagai sistem neofenologis yang sekarang ini meneliti implikasi filosofis
dari fisika modern. Yang paling penting dari teori-teori ini adalah relativitas
kerangka rujukan.
Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi
perbedaan adalah empati. Seperti simpati, istilah ini juga dugunakan dalam arti
bermacam-macam. Dalam penggunaan sehari-hari, empati sering didefinisikan
sebagai berada pada posisi orang lain; sebagai simpati yang dalam; sebagai
kepekaanan kepada kebahagiaan bukan kesedihan; dan sebagai sinonim langsung
dari simpati.
Begitu meluasnya kaidah emas ini sehingga hanyalah usaha terpadu yang dapat
menghilangkan pengaruhnya pada komunikasi kita. Enam langkah dalam prosedur ini
menjadi petunjuk mengembangkan keterampilan empati. Setiap langkah adalah
persyaratan yang diperlukan untuk langkah sebelumnya atau bila gagal bergerak
dengan tepat. Bila prosedur ini diambil seluruhnya dan secara berurutan, maka
prosedur ini mencerminkan pendekatan yang efektif untuk memahami perbedaan.
Langkah pertama: Mengasumsikan Perbedaan.
Langkah kedua: Mengenali Diri
Langkah ketiga: Menunda Diri
Langkah keempat: Melakukan Imajinasi Terbimbing
Langkah kelima: Membiarkan Pengalaman Empati
Langkah keenam: Meneguhkan Kembali Diri
Walaupun empati dapat digunakan dalam berbagai situasi komunikasi, dalam
makalah ini kita hanya mencurahkan perhatian pada penggunaannya untuk memahami
perbedaan. Sebagaimana ditunjukkan oleh konotasi simpati yang etnosentrik, yang
disebut terdahulu, penggunaan empati dapat menciptakan iklim yang lebih
sensitif dan terhormat untuk komunikasi interasial dan interkultural. Dengan
empati, kita dapat mengatasi kaidah emas, dan menggantikannya dengan
"Kaidah Platina": "Perlakukanlah orang lain seperti mereka
memperlakukan diri mereka sendiri".
Pembahasan
Dalam kenyataan yang ada, baik di film "How Biased are You"
maupun kisah nyata yang kita alami sendiri memperlihatkan bahwa komunikasi
antar komunitas berbeda akan semakin rumit dengan perbedaan-perbedaan yang
terlihat dan pernah kita alami. Tapi bukan berarti hal ini tidak bisa
dihilangkan atau dihindari. Dengan mempelajari beberapa teori di atas, kita
bisa memulai untuk me-manage perbedaan-perbedaan yang ada mulai dari
dalam diri pribadi kita masing-masing.
Teori-teori yang ada bisa kita terapkan dalam kehidupan kita pribadi dengan
tetap menyadari bahwa setiap budaya itu berbeda dan antara orang yang satu
dengan yang lain pasti ada perbedaan dalam banyak hal, terutama perbedaan
nilai-nilai yang dianut.
Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin
diperlakukan oleh mereka. Dalam kaidah ini terkandung asumsi kesamaan: bahwa
orang lain seperti diri kita dan karena ia ingin diperlakukan yang sama.
Kesamaan mengandung makna realitas yang tunggal dan mutlak dan pemikiran
seperti itu adalah dasar etnosentrisme. Kaidah emas membawa kita pada strategi
komunikasi simpati; yakni menganggap orang lain berpikir dan merasa seperti
kita dalam menghadapi situasi yang sama. Hal ini bisa membantu atau menolong
kita dalam meminimalisir perbedaan. Ketika kita saling memahami, mengerti dan
memperlakukan orang lain dengan sewajarnya, maka hal itupun yang akan kita
terima.
Sekarang kita melihat, bagaimana kaidah emas berasal dari asumsi kesamaan
manusia - asumsi yang konsisten dengan teori realitas tunggal. Strategi
komunikasi yang melaksanaka kaidah emas adalah simpati yang antara lain berupa
penggeneralisasian pikiran dan perasaan dari kerangka rujukan kita sendiri.
Walaupun simpati dapat melahirkan pengertian tentang orang lain dalam situasi
yang betul-betul sama, simpati banyak mengandung kerugian dalam situasi ketika
ditemukan perbedaan manusiawi.
Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi
perbedaan adalah empati. Seperti simpati, istilah inipun digunakan dalam arti
bermacam-macam. Dalam penggunaan sehari-hari, empati sering didefinisikan
sebagai berada pada posisi orang lain. Kadang kita tidak bisa memahami bagaiman
orang lain diperlakukan, atau orang lain tidak begitu respek dengan simpati
yang kita berikan. Tetapi lebih membutuhkan empati dari kita. Butuh
diperlakukan seperti bagaiaman mereka ingin diperlakukan.
Solusi
Solusi yang dapat saya berikan untuk mengatasi perbedaan yang dapat menimbulkan
prasangka adalah:
1. Mengasumsikan perbedaan, mengenali diri, menunda diri, melakukan imajinasi
terbimbing, membiarkan pengalaman empati, meneguhkan kembali diri.
2. Memperlakukan orang lain dengan baik
3. Menghilangkan perbedaan dari pikiran kita, sehingga tidak menimbulkan
prasangka.
4. Memahami posisi orang lain, dan
5. Memperlakukan orang lain seperti bagaimana mereka ingin diperlakukan
Kesimpulan
Perbedaan mungkin kita anggap biasa dan wajar-wajar saja, tapi tanpa kita
sadari, perbedaan membuat kita egois dan bahkan secara perlahan tapi pasti
membawa kita kepada kehancuran. Kita akan mulai kehilangan EMPATI pada orang
lain jika kita perbedaan itu terus kita pertahankan dan kita biarkan menguasai kita.
Saat orang mulai memperbesar perbedaan, itulah prasangka. Oleh karena itu,
sebisa mungkin kita harus meminimalisir perbedaan yang ada, mulai dari diri
kita masing-masing, sehingga prasangka itu tidak ada dan kita bisa
memperlakukan orang lain dengan baik tanpa melihat perbedaan apapun termasuk
perbedaan budaya.
Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi
perbedaan adalah empati. Kadang kita tidak bisa memahami bagaiamana orang lain
diperlakukan, atau orang lain tidak begitu respek dengan simpati yang kita
berikan, tetapi mereka lebih membutuhkan empati dari kita, butuh diperlakukan
sebagaimana mereka ingin diperlakukan.
Referensi:
1. Mulyana Deddy, Dr. M.A., Jalaluddin Rahmat, Drs. M.Sc. 2006. Komunikasi
Antar Budaya. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
2. Film "How Biased are You"
Diposkan Lea
Belandina dalam http://belandina.blogspot.com/
Tugas anda:
Baca baik-baik tulisan di atas, akan didiskusikan dalam kelas pada kuliah Selasa 1 Mei 2012