Kamis, 23 Januari 2014

Tugas SKUH - kelas khusus STP Sahid

Tugas SKUH


  1. Dalam pembuatan studi kelayakan bisnis, apa sebenarnya yang menjadi tujuan utamanya?
  2. Apa aspek aspek yang harus ada dalam dokumen studi kelayakan bisnis yang anda buat, jelaskan jawaban saudara
  3. Jelaskanlah tentang 3 jenis badan usaha yang anda ketahui
  4. Jika dilihat dari aspek pemasaran, jalaskan bagaimana kaitan strategi STP (Segmenting, Targeting , Positioning) dengan strategi bauran pemasaran dalam menilai keberhasilan investasi

Jawablah pertanya pertanyaan di atas, dan jawaban dikirim via email ke susiana64@gmail.com, paling lambat Rabu, 29 Januari 2014 pukul 23.59

Kamis, 19 Desember 2013

Tugas MSDM - STP SAHID Serpong

Bacalah baik-baik tulisan di bawah ini: The Ritz-Carlton: New Gold Standards ( Mitchelli, 2009)
  1.     ……Jaringan The Ritz-Carlton di Amerika juga  punya citra sama , sebuah hotel mewah dengan standar pelayanan emas untuk menampung tamu terhormat. Maka, dia menciptakan standar pelayanan dasar untuk hotelnya. Seluruh karyawan berpakaian seragam, ada kamar mandi pada setiap kamar tamu serta ruangan khusus di lobi, tempat untuk menerima tamu. Karena yang dilayani adalah para ladies and gentlemen, maka sebutan untuk karyawannya, dari tukang angkat koper sampai general manager semua sama, mereka juga disebut ladies and gentlemen.
  2.   Bekerja dalam industri perhotelan memang menarik, apalagi untuk mereka yang gemar dengan kehidupan mewah. Namun,  sekali seseorang memilih profesi tersebut, mereka harus berdedikasi secara tuntas.”Hotel bukan tempat untuk mereka yang hanya senang bertugas antara pukul 09.00 dan 17.00. Mereka harus sadar, akhir pekan dan masa liburan sering tidak bisa dinikmati dan bukan waktu untuk bersantai dengan keluarga. Sebab, sering terjadi pada saat tersebut mereka justru harus bekerja ekstra demi melayani tamu,” kata Simon Cooper, Presiden The Ritz-Carlton Hotel Company, pengelola 69 hotel mewah sejak di Dubai sampai Dallas, mulai dari Shanghai sampai Santiago. Tahun 2011 mendatang, sasarannya membangun jaringan 100 hotel mewah di seluruh dunia berikut kepemilikan residences (apartemen), kelab, dan properti lainnya.
  3. .  ..... Kunci sukses The Ritz-Carlton, tidak peduli apa jabatan dan posisinya, semua karyawan akan diperlakukan sebagai anggota keluarga. Kebijakan tersebut berhasil membangun loyalitas kepada perusahaan. Selain itu, setiap hari semua karyawan selalu menyimpan kartu kredo, tiga langkah pelayanan sebagai inti dasar budaya perusahaan, dalam saku baju seragam mereka. Pertama, ucapkan salam hangat kepada tamu dengan tulus sambil menyebut namanya. Kedua, penuhi semua permintaan pelanggan. Ketiga, sewaktu berpisah, ucapkan selamat jalan dan sebut lagi namanya.
  4. Kredo di atas ikut melengkapi motto The Ritz-Carlton, ”Ladies and Gentlemen are serving Ladies and Gentlemen”. Bagi sebagian orang, motto tersebut mungkin dianggap kuno atau terlalu mengada-ada, khususnya pada masa kini yang serba sibuk. Namun, Horst Schulze, bekas Presiden Ritz-Carlton, melukiskan, ”…justru dengan motto tersebut, setiap tamu yang datang ke hotel kami secara otomatis sudah bisa mengharapkan, pasti mendapatkan layanan profesional. Semua staf berinteraksi sejajar, dan pimpinan puncak menjaga ladies dan gentlemen mereka dari segala macam gangguan, sebagaimana layaknya sesama anggota keluarga.
  5. Kisah sukses Ritz-Carlton bisa dicapai berkat pemilihan karyawan (proses rekrutmen dan seleksi) secara cermat lewat proses pendekatan pribadi yang teliti. Begitu lolos, para karyawan kemudian diperlakukan sebagai anggota keluarga, mendapat kesempatan mengembangkan untuk bisa diri, dan diberi kehormatan dengan sebutan ladies dan gentlemen.. Terciptanya "Hubungan kesetiaan Pelanggan dalam nilai-nilai pelayanan yang kita lakukan", diterapkan dengan apa yang disebut sebagai The New Gold Standard.
  6. .. Ada 5 kerangka Prinsip Nilai Kepemimpinan yang digunakan oleh Ritz-Carlton Hotel dalam mengembangkan pelayanan pada customernya yaitu:
a.       Define and Redifine, (Memahami kebutuhan pelanggan yang selalu berkembang)
b.      Empower Through Trusts (Memberdayakan karyawan dengan memperlakukan mereka dengan hormat sepenuhnya- penggunaan istilah Ladies and gentlemen are serving for ladies and gentlemen)
c.       Its Not About You (Fokus pada orang lain-dalam hal ini pelanggan)
d.      Deliver "WOW" (Mengantisipasi kebutuhan dan kekhawatiran pelanggan yang tidak mereka ungkapkan)
e.      Leaving a Lasting Footprint (Mengembangkan dan melaksanakan system pelatihan yang tak terkalahkan

Dari tulisan di atas, analisis mana saja yang menjadi fungsi manajemen sumberdaya manusia, dan bagaimana pendapat anda mengenai Manajemen SDM di Ritz-Carlton  seperti dalam tulisan di atas
Jawaban dikirimkan ke susiana64@gmail.com, dalam bentuk MS doc. Paling lambat Minggu, 22 Desember 2013, pukul 23.59


Selamat Libur, Selamat Tahun Baru 2014

Semoga semua menjadi lebih baik dan lebih sukses dan selalu dalam lindungan NYA

Jumat, 22 November 2013

kuliah skb - kelas stp serpong

Tugas Terstruktur


Rancang sebuah bisnis usaha dibidang pariwisata, dengan perincian sbb

Fokus pada aspek :

Pasar dan pemasaran

Aspek manajemen

Aspek teknis operasional

buat draft sementara, kirimkan ke susiana64@gmail.com paling lambat Sabtu, 23 Nopember 2013 pk 23.59

kuliah komunikasi budaya- Simpati dan Empati - PBU VII - Hotel

Fenomena
Fenomena komunikasi antara komunitas  berbeda budaya semakin rumit, sejalan dengan semakin beragamnya konsep diri, minat, kepentingan, gaya hidup, kelompok rujukan, sistem kepercayaan dan nilai yang berkembang. Walaupun memiliki budaya yang sama, tapi dalam suatu komunitas yang terdiri dari beberapa ras, pasti ada perbedaan atau secara tidak sadar, perbedaan itu dimunculkan dan akhirnya menjadi suatu prasangka. Dari prasangka-prasangka inilah akhirnya selalu terjadi terjemahan informasi yang salah.

Banyak fenomena komunikasi yang mungkin atau bahkan sering kita alami, baik secara sadar atau tidak sadar. Ketika kita berada di suatu budaya yang berbeda, ini akan sangat terasa. Saya akan menceritakan beberapa fenomena komunikasi yang pernah saya alami, khususnya dari segi bahasa yang akhirnya menimbulkan prasangka lain.

Di Bandung, kalau kita tidak bisa berbahasa Sunda, maka kita akan menjadi sasaran empuk sopir angkutan kota (angkot). Waktu pertama kali saya berada di Bandung (3 tahun yang lalu), saya sering mendapat perlakuan yang tidak adil dari hampir semua sopir angkot yang angkotnya pernah saya tumpangi dalam hal ongkos/biaya yang harus saya bayar dengan jarak yang saya tempuh. Ketika saya turun dari angkot dan saya membayar ongkos dengan tidak menggunakan uang pas, maka ongkos yang seharusnya Rp 2.000,- dalam sekejab akan berubah menjadi Rp 3.000,-

Berbeda dengan di Yogyakarta. Di Yogyakarta, ketika berbelanja di Malioboro dan menawar barang dengan berbahasa Indonesia dan logat yang sedikit berbeda, maka harga barang yang seharusnya 15 ribu akan berubah menjadi 30 ribu. Perbedaan yang cukup drastis.

Warna kulit juga merupakan salah satu perbedaan yang sangat mencolok di suatu daerah berbeda. Waktu saya masih berdomisili di Yogyakarta, ketika berbelanja di warung yang sedang ramai, maka hukum ras akan sangat berlaku. Walaupun kita sudah antri 1 jam, jika kita bukan orang pribumi (warna kulit sedikit gelap) yang berkulit "sawo matang", maka kita akan menjadi orang terakhir untuk dilayani. Dalam mencari kost-kost-an pun demikian.

Ini adalah pengalaman teman kost saya (waktu masih di Yogyakarta) yang berasal dari Batak. Dia bercerita bahwa ketika tiba di Yogyakarta, dia sangat kesulitan dalam mencari kost-an. Walaupun di depan pintu ada tulisan "TERIMA KOST PUTRI", tetapi ketika ibu kost-nya keluar dan mendengarkan logat Batak-nya yang kental, tanpa basa basi, pemilik kost-an tersebut langsung mengatakan bahwa semua kamar sudah penuh. Bahkan ada yang dengan jujur mengatakan "Kamu orang Batak ya? Maaf, di sini tidak menerima orang Batak karena orang Batak hanya bisa membuat keributan". Dia sangat putus asa, tapi akhirnya ada temannya (orang Jawa) yang berhasil meyakinkan salah satu pemilik kost dan akhirnya mau menerima dia. Sungguh perjuangan yang luar biasa, dan perbedaab yang luar biasa pula.

Pengalaman yang menunjukkan tentang komunikasi antar budaya yang menimbulkan prasangka juga dapat kita lihat dalam film "How Biased are You" (belum pernah nonton? Buruan cari filmnya selagi masih ada). Dalam film ini terlihat begitu banyak perbedaan antara orang berkulit hitam dan orang berkulit putih walaupun memiliki budaya yang kurang lebih sama. Dalam melakukan banyak hal, orang kulit putih lebih diutamaka/didahulukan dibanding orang kulit hitam. Bahkan secara tidak langsung, ketika melakukan tes pada beberapa orang berkulit putih dan berkulit hitam, keduanya lebih berpihak pada orang berkulit putih.

Perbedaan mungkin kita anggap biasa dan wajar-wajar saja, tetapi tanpa kita sadari perbedaan membuat kita menjadi egois dan bahkan secara perlahan tapi pasti membawa kita pada kehancuran. Kita akan mulai kehilangan EMPATI pada orang lain jika perbedaan itu terus kita pertahankan dan kita biarkan menghantui kita.

Seperti yang ada dalam film "Haw Biased are You", dalam tes yag diberikan kepada beberapa orang berkulit hitam, tanpa mereka sadari, mereka sudah lebih berpihak pada orang berkulit putih. Mereka sendiri mengakui bahwa sebenarnya dari lubuk hati mereka yang paling dalam tidak seperti itu. Lalu faktor apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Mengapa hasil tes tersebut bisa berbeda dengan pengakuan mereka? Itu artinya perbedaan tersebut bisa dihilangkan. Berikut beberapa teori yang berkaitan dengan masalah ini.

Kerangka Teori
Cara kita berpikir dapat terkondisikan secara kultural. Budaya-budaya Timur melukiskan sesuatu dengan visualisasi-visualisasi, sedangkan budaya Barat cenderung menggunakan konsep-konsep.

Pada dasarnya manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan-kebiasaan, praktik-praktik, tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu.

Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan tidak dimiliki oleh sebagian orang lainnya - budaya dimiliki oleh semua manusia dan dengan demikian merupakan suatu faktor pemersatu. Budaya juga merupakan pengetahuan yang dapat dikomunikasikan, sifat-sifat perilaku dipejari yang juga ada pada anggota-anggota dalam suatu kelompok sosial dan berwujud dalam lembaga-lembaga dan artefak-artefak mereka.

Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh mereka. Dalam kaidah ini terkandung asumsi kesamaan: bahwa orang lain seperti diri kita dan karena ia ingin diperlakukan sama. Kesamaan mengandung makna realitas yang tunggal dan mutlak, dan pemikiran seperti itu adalah dasar etnosentrisme.Kaidah emas membawa kita pada strategi komunikasi simpati; yakni menganggap orang lain berpikir dan merasa seperti kita dalam menghadapi situasi yang sama.

Untuk mengatasi Kaidah Emas, kita harus mengasumsikan adanya perbedaan diantara orang-orang dan adanya realitas ganda. Bila kita menggunakan prinsip ini, kita menggunakan strategi komunikasi empati; yakni secara imajinatif kita mengalami dunia dari perspektif orang lain. Kemampuan empati dapat dikembangkan dengan mengikuti enam langkah yang saling berkaitan. Berbeda dengan Kaidah Emas, komunikasi empati mendorong kepekaan interasial dan interkultural.

Kaidah Emas ini adalah puncak gunung es ideologi yang meghalangi perjalanan menuju pengertian interkultural dan perdamaian internasional. Kaidah Emas dan asumsi serta strategi yang menyertainya tidak efektif. Kita hanya ingin menyatakan bahwa keefektifan pendekatan ini sangat dibatasi perbedaan manusiawi.

Berlawanan dengan asumsi bahwa semua orang pada pokoknya sama, kita dapat mengasumsikan bahwa setiap orang pada hakikatnnya unik. Teori ini dapat kita sebut sebagai "hipotesis serpihan salju". Bila kita melihat kesamaan yang tampak lebih secara lebih dekat, kita akan melihat keanekaragaman yang hampir tidak terbayangkan. Pengamatan manusia yang lebih cermat juga mengungkapkan keanekaragaman seperti ini. Jelaslah bagi kita bahwa kategori yang kita gunakan untuk mengasumsikan adalah generalisasi yang dibuat dari jauh - dari jarak yang dilestarikan oleh abstraksi seperti Kaidah Emas.

Jika kita menolak kaidah emas untuk menolak perbedaan, keanekaragaman karakteristik manusia yang mempesona segera tampak. Bukan saja perbedaan itu nyata dalam bahasa dan budaya, tetapi juga dapat diamati dalam tingkat fisiologis. Seperti serpihan salju, orang berbeda dalam sidik jarinya, pola gelombang otak, pola suara, dan komposisi lainnya. Disamping perbedaan bahasa dan budaya pada suatu sisi dan perbedaan fisiologis pada sisi yang lain, orang juga berbeda secara individual dalam pola psikologisnya.

Asumsi perbedaan konsisten dengan teori realaitas majemuk. Teori-teori ini berpendapat, seperti konstruk personal, bahwa realitas bukanlah kuantitas yang tepat dan dapat ditemukan. Realitas adalah kualitas yang berubah-ubah dan dapat diciptakan. Dalam filsafat, pandangan ini diwakili oleh fenomenologi dan berbagai sistem neofenologis yang sekarang ini meneliti implikasi filosofis dari fisika modern. Yang paling penting dari teori-teori ini adalah relativitas kerangka rujukan.

Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi perbedaan adalah empati. Seperti simpati, istilah ini juga dugunakan dalam arti bermacam-macam. Dalam penggunaan sehari-hari, empati sering didefinisikan sebagai berada pada posisi orang lain; sebagai simpati yang dalam; sebagai kepekaanan kepada kebahagiaan bukan kesedihan; dan sebagai sinonim langsung dari simpati.

Begitu meluasnya kaidah emas ini sehingga hanyalah usaha terpadu yang dapat menghilangkan pengaruhnya pada komunikasi kita. Enam langkah dalam prosedur ini menjadi petunjuk mengembangkan keterampilan empati. Setiap langkah adalah persyaratan yang diperlukan untuk langkah sebelumnya atau bila gagal bergerak dengan tepat. Bila prosedur ini diambil seluruhnya dan secara berurutan, maka prosedur ini mencerminkan pendekatan yang efektif untuk memahami perbedaan.
Langkah pertama: Mengasumsikan Perbedaan.
Langkah kedua: Mengenali Diri
Langkah ketiga: Menunda Diri
Langkah keempat: Melakukan Imajinasi Terbimbing
Langkah kelima: Membiarkan Pengalaman Empati
Langkah keenam: Meneguhkan Kembali Diri

Walaupun empati dapat digunakan dalam berbagai situasi komunikasi, dalam makalah ini kita hanya mencurahkan perhatian pada penggunaannya untuk memahami perbedaan. Sebagaimana ditunjukkan oleh konotasi simpati yang etnosentrik, yang disebut terdahulu, penggunaan empati dapat menciptakan iklim yang lebih sensitif dan terhormat untuk komunikasi interasial dan interkultural. Dengan empati, kita dapat mengatasi kaidah emas, dan menggantikannya dengan "Kaidah Platina": "Perlakukanlah orang lain seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri".

Pembahasan
Dalam kenyataan yang ada, baik di film "How Biased are You" maupun kisah nyata yang kita alami sendiri memperlihatkan bahwa komunikasi antar komunitas berbeda akan semakin rumit dengan perbedaan-perbedaan yang terlihat dan pernah kita alami. Tapi bukan berarti hal ini tidak bisa dihilangkan atau dihindari. Dengan mempelajari beberapa teori di atas, kita bisa memulai untuk me-manage perbedaan-perbedaan yang ada mulai dari dalam diri pribadi kita masing-masing.

Teori-teori yang ada bisa kita terapkan dalam kehidupan kita pribadi dengan tetap menyadari bahwa setiap budaya itu berbeda dan antara orang yang satu dengan yang lain pasti ada perbedaan dalam banyak hal, terutama perbedaan nilai-nilai yang dianut.

Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh mereka. Dalam kaidah ini terkandung asumsi kesamaan: bahwa orang lain seperti diri kita dan karena ia ingin diperlakukan yang sama. Kesamaan mengandung makna realitas yang tunggal dan mutlak dan pemikiran seperti itu adalah dasar etnosentrisme. Kaidah emas membawa kita pada strategi komunikasi simpati; yakni menganggap orang lain berpikir dan merasa seperti kita dalam menghadapi situasi yang sama. Hal ini bisa membantu atau menolong kita dalam meminimalisir perbedaan. Ketika kita saling memahami, mengerti dan memperlakukan orang lain dengan sewajarnya, maka hal itupun yang akan kita terima.

Sekarang kita melihat, bagaimana kaidah emas berasal dari asumsi kesamaan manusia - asumsi yang konsisten dengan teori realitas tunggal. Strategi komunikasi yang melaksanaka kaidah emas adalah simpati yang antara lain berupa penggeneralisasian pikiran dan perasaan dari kerangka rujukan kita sendiri. Walaupun simpati dapat melahirkan pengertian tentang orang lain dalam situasi yang betul-betul sama, simpati banyak mengandung kerugian dalam situasi ketika ditemukan perbedaan manusiawi.

Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi perbedaan adalah empati. Seperti simpati, istilah inipun digunakan dalam arti bermacam-macam. Dalam penggunaan sehari-hari, empati sering didefinisikan sebagai berada pada posisi orang lain. Kadang kita tidak bisa memahami bagaiman orang lain diperlakukan, atau orang lain tidak begitu respek dengan simpati yang kita berikan. Tetapi lebih membutuhkan empati dari kita. Butuh diperlakukan seperti bagaiaman mereka ingin diperlakukan.

Solusi
Solusi yang dapat saya berikan untuk mengatasi perbedaan yang dapat menimbulkan prasangka adalah:
1. Mengasumsikan perbedaan, mengenali diri, menunda diri, melakukan imajinasi terbimbing, membiarkan pengalaman empati, meneguhkan kembali diri.
2. Memperlakukan orang lain dengan baik
3. Menghilangkan perbedaan dari pikiran kita, sehingga tidak menimbulkan prasangka.
4. Memahami posisi orang lain, dan
5. Memperlakukan orang lain seperti bagaimana mereka ingin diperlakukan

Kesimpulan

Perbedaan mungkin kita anggap biasa dan wajar-wajar saja, tapi tanpa kita sadari, perbedaan membuat kita egois dan bahkan secara perlahan tapi pasti membawa kita kepada kehancuran. Kita akan mulai kehilangan EMPATI pada orang lain jika kita perbedaan itu terus kita pertahankan dan kita biarkan menguasai kita.

Saat orang mulai memperbesar perbedaan, itulah prasangka. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita harus meminimalisir perbedaan yang ada, mulai dari diri kita masing-masing, sehingga prasangka itu tidak ada dan kita bisa memperlakukan orang lain dengan baik tanpa melihat perbedaan apapun termasuk perbedaan budaya.

Strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi perbedaan adalah empati. Kadang kita tidak bisa memahami bagaiamana orang lain diperlakukan, atau orang lain tidak begitu respek dengan simpati yang kita berikan, tetapi mereka lebih membutuhkan empati dari kita, butuh diperlakukan sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Referensi:
1. Mulyana Deddy, Dr. M.A., Jalaluddin Rahmat, Drs. M.Sc. 2006. Komunikasi Antar Budaya. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
2. Film "How Biased 
 You"
Diposkan Lea Belandina dalam http://belandina.blogspot.com/

Tugas anda:
Baca baik-baik tulisan di atas, jawablah:
1.Jelaskan tentang apa yang dimaksud dengan kaidah emas
2.Jelaskan pula apa yang dimaksud dengan simpati dan empati
3.Menurut anda bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan budaya?

Kumpulkan pada jumat 23 nopember 2013 pk 10.00 pagi

Selasa, 08 Oktober 2013

kuliah ke 6 Pariwisata Berkelanjutan kelas sudirman

Bacalah tulisan di bawah ini, dan jawablah pertanyaannya
Pulau Bintan merupakan pulau terbesar diantara pulau-pulau lainnya yang ada di propinsi termuda Indonesia, yaitu propinsi Kepulauan Riau. Letaknya sangat strategis karena berbatasan langsung dengan negara tetanga Singapore dan Malaysia. Jarak tempuh dari Singapore ke Tanjung Pinang hanya 2 jam dengan menggunakan Ferry. Bahkan bagian utara Pulau Bintan, yaitu Lagoi dapat ditempuh hanya dalam waktu 55 menit. Karena letaknya yang strategis, sudah sejak lama Bintan menjadi pusat perdagangan dan pariwisata. Pariwisata semakin berkembang ketika diterapkannya kebijakan bebas visa bagi wisman asal negara Asean, seperti Singapore dan Malaysia.
        Setiap tahun Pulau Bintan dikunjungi oleh sekitar 500 ribu orang wisatawan mancanegara. Ada dua tujuan wisata di Bintan, yaitu Tanjung Pinang yang menjadi ibu kota propinsi Kepulauan Riau dan Kawasan Wisata Internasional Lagoi, Kab. Bintan yang terletak di utara P. Bintan. Wisman yang datang ke Tanjung Pinang di dominasi oleh turis dari Singapore dan Malaysia, umumnya mereka datang untuk berbelanja (shopping) atau mencari hiburan semata. Sedangkan turis yang datang ke Kawasan Wisata Lagoi lebih beragam, biasanya mereka datang dengan tujuan untuk berlibur, bulan madu atau berolah raga, khususnya golf.
        Banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke P. Bintan memang telah meningkatkan perekonomian dan menciptakan banyak lapangan kerja. Pariwisata menjadi tulang punggung penggerak roda perekonomian dan menjadi salah satu sumber pendapatan utama pemerintah setempat, khususnya penerimaan dari pajak hotel dan restaurant. Namun, sayangnya hiruk pikuk dan gemerlap pariwisata ini belum bisa dinikmati sepenuhya oleh penduduk asli, mereka kalah bersaing dengan pendatang yang umumnya memiliki keuletan, keterampilan dan pendidikan yang relatif lebih baik dari penduduk lokal.
        Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam bidang pariwisata, pada tahun 2002 digulirkan proyek pengembangan ekowisata berbasis komunitas dengan nama Bintan Ecotourism
Venture Project (BEVEP) yang dibiayai oleh multi lembaga, yaitu Department for International Development (DFID, Inggris), PEMDA Kab. Bintan dan PT Bintan Resort Cakrawala selaku pengelola kawasan wisata Lagoi. Proyek selama 3 tahun ini dilaksanakan di dua desa yang letaknya bersinggungan dengan kawasan wisata Lagoi, yaitu Desa Sebong Lagoi dan desa Sribintan, Kecamatan Teluk Sebong, Kab. Bintan. BEVEP bertujuan untuk memberikan alternatif pendapatan dengan menjadi pelaku pariwisata di desanya masing-masing. Tujuan lain yang hendak dicapai dalam proyek ini adalah menjaga kelestarian lingkungan dan mempromosikan budaya Melayu Riau.
Kegiatan utama Proyek Ekowisata berbasis komunitas ini adalah meningkatkan keterampilan penduduk lokal dalam bidang pariwisata melalui serangkaian kegiatan pelatihan yang relevan. Kegiatan lain adalah memperbaiki infrastruktur desa serta membangun berbagai sarana pariwisata yang diperlukan. Dengan di bantu konsultan ahli dalam dan luar negeri kemudian di rancang beberapa produk ekowisata sesuai dengan potensi yang ada di kedua desa tersebut. Setelah melakukan beberapa kali uji pasar dan justifikasi, akhirnya produk ekowisata siap untuk dipasarkan. Seluruh kegiatan proyek dari mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat setempat.
        Usaha ekowisata ini selanjutnya dioperasikan oleh masyarakat setempat melalui wadah organisasi Yayasan Ekowisata yang telah dibentuk sebelumnya di setiap desa. Produk ekowisata yang dijual antara lain Ekowisata Memancing Tradisional di Sungai Sebong, Ekowisata Mendaki Gunung Bintan, Ekowisata Budaya Desa, Ekowisata Bersepeda Melintasi hutan, pantai, perkebunan dan kawasan pemukiman, Ekowisata Memancing ke Tengah Laut, Ekowisata Menjelajah Desa dengan Bersepeda, dsb. Pangsa pasar ekowisata adalah wisman yang berkunjung ke kawasan wisata Lagoi. Kegiatan promosi dan pemasaran dilakukan oleh PT Bintan Resort Cakrawala yang merupakan mitra kerja Yayasan Ekowisata.

Pertanyaan:

Menurut Saudara, dari bacaan di atas, aktivitas apa saja yang memperlihatkan penerapan prinsip-prinsip Pariwisata berkelanjutan?

Buatlah jawaban anda dengan singkat dan jelas

Jawaban dikirimkan via email ke susiana64@gmail.com, plg lambat Sabtu, 11 Oktober 2013 pk. 23.59

Selasa, 01 Oktober 2013

Kulia 6 Ekonomi Pariwisata - PBU 7 UPW

1.       Jelaskanlah yang dimaksud dengan 10 prinsip ekonomi, dan pada saat  kapan suatu barang disebut barang ekonomi
2.       Bagaimana dengan ekonomi pariwisata? Jelaskanlah jawaban Saudara
3.       Apa yang dimaksud dengan hukum penawaran, dan bagaimana ciri khasnya?
4.       Apa yang dimaksud dengan hukum permintaan, bagaimana ciri khasnya?
5.       Apa  beda dari  produk barang dan jasa?

6
di kumpulkan jumat 4 Oktober 2013, pk 23.59 via email susiana64@gmail.com

Kuliah 5 Ekonomi Pariwisata - PBU 7 UPW

1.     Kerjakanlah soal berikut ini 


      Berapakah titik impas dari kasus dalam pasar persaingan sempurna di bawah ini:
Permintaan suatu barang ditunjukkan dengan persamaan     Q = 60 – 10P; dan penawaran barang ditunjukkan dengan persamaan  Q = 5P + 15. dimana Q adalah jumlah barang dan P adalah harga.
 (a)Carilah titik keseimbangan pasar dari permintaan dan penawaran di atas  (ekuilibrium)  

 (b) gambarkan kurva keseimbangan permintaan dan penawaran barang tersebut 

Kerjakan dan di kumpulkan pada Jumat 4 Oktober 2013, pk 23.59
subject: Ekonomi pariwisata -PBU 7 UPW